Judul Kitab : Al-Asma'u Wa Al-Ashifat
Pengarang : Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi
Tebal :
512 Halaman
Penerbit : Dar Ihya' Al-Turast Al-Araby
Peresensi : Muhammad Fathullah Az-zarkasyi[1]
Perang argument serial aqidah bukan
barang baru dalam sejarah intelektual islam. ini terbukti dengan munculnya
sejumlah aliran dalam teritorial aqidah islam. pada babak awal pembentukan
Dinasti Umayyah, muncul sebuah pemikiran yang di kemudian hari, di kenal dengan
istilah Jabariyyah (fatalisme). Aliran ini, berfaham tidak ada ikhtiar bagi
manusia. Bagi jabariyyah, manusia ibarat sehelai rambut yang di terbangkan oleh
angin, kemanapun dan sampai kapan pun.
Demi mengukuhkan, kekuasaan nya
Muawwiyyah kemudian memunculkan sebuah argument, bahwa apa yang terjadi antara
dia dengan imam Ali bin aby tholib, merupakan kehendak Allah SWT yang harus
terjadi dan kami tidak punya kekuatan untuk menghindarinya karena kita hanya
menjalankan kehendak Allah SWT. Titik inilah yang kemudian menjadi cirri khas
pemikiran para raja dalam islam. kita bisa lihat, ketika dinasti umayyah runtuh
dan muncul dinasti Abbasiyyah, pun juga di tandai dengan konsep jabariyyah di
awal gerakan membangun pengaruh terhadap ummat islam. konsep Jabariyyah di tuduh sebagai biang
kerok kemunduran Islam. karena dengan memakai pemahaman jabariyyah
seseorang tidak akan mau berusaha karena apapun usahanya semuanya sudah
ditentukan oleh Tuhan.
Dengan harapan
perubahan Ummat, Mu'tazilah pun lahir dengan mengusung pemahaman
"taqdir" adalah hasil upaya manusia sendiri. Karena tuhan itu adil
maka tidak mungkin Dia menjadikan manusia jahat lalu kemudian menghukumnya.
Kejahatan manusia adalah upaya manusia sendiri hingga ia pantas untuk di hukum.
Pandangan Mu'tazilah ini mendapat kecaman dan penolakan dari kelompok
Asy'ariyah dengan menawarkan jalan tengah. Sehingga seorang Asy'ariyah akan
menjadi Mu'tazilah di saat dia berupaya melakukan sesuatu dan mengambil posisi
Jabariyah ketika mendapatkan hasil usahanya. Dalam manuvernya Mu'tazilah cukup
berjasa bagi kemajuan ummat Islam. karena dengan faham yang di yakininya
seorang Mu'tazilah akan berusaha melakukan yang terbaik demi kepentingannya di
dunia dan di akhirat. Pujian serupa juga sempat keluar dari seorang imam Asy'ari
dengan mengatakan bahwa Mu'tazilah telah berjasa pada agama Islam karena telah
menyelamatkan pemikiran Islam dari rong – rongan pilsapat yunani.
Kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu merupakan terobosan dari seorang Ulama'
yang meninggalkan kita di tahun 458 H, dalam rangka reboisasi kembali wacana
teologi Islam. Berangkat dari sebuah keprihatinan Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi terhadap tingginya diagram wacana Bid'ah
yang bermunculan di tengah gulatan pemikiran keislaman saat ini. Di
tambah munculnya sejumlah aliran, madzhab, sekte dan firqoh yang menjadikan
teologi sebagai batu loncatan wacana di tengah kampung pemikiran Islam.
Dua
alasan tersebut, menjadi titik simpul pemikiran Al-Imam Al-Hafizh
Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi dalam kitab ini. Sehingga dengan
tegas beliau menyatakan : "kitab nama-nama Allah Jalla Tsana'uh dan
sifat-sifat – Nya, yang berangkat melalui legalitas Al-Qur'an atas kebenarannya
atau legalitas Sunnah Rasulullah SAW atau legalitas Ijma' Salaf ummat ini,
sebelum munculnya firqoh (seperti : muktazilah, jabariyyah dan lain-lain) dan
maraknya wacana Bid'ah di tengah peradaban keilmuan Islam".
Al-Imam Al-Hafizh
Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi menabuh Bedug
argumentasinya dalam kitab ini, dengan Bab 'Adad Al-Asama' Al-Laty Akhbarha
Al-Nabi Saw Anna Man Ahshoha Dakhala Al-Jannah. Pada pembahasan ini, Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi mengangkat ungkapan Rasulullah dari Abi
Hurairoh, Rasulullah bersabda : "sesungguhnya bagi Allah Sembilan puluh
Sembilan nama, seratus selain satu. Barang siapa menghapalnya masuk syurga dan
dia maha ganjil serta mencintai yang ganjil". Di sisi lain kitab yang kita
bahas ini, menawarkan wacana "Allah Tertawa". Sepintas tawaran Imam
Al-Baihaqi ini sangat berbahaya, tetapi luasnya pengetahuan sang imam, mampu
menguraikannya di atas bangunan fakta dan data bukan berdasarkan sentimentil
tanpa dasar.
Tegasnya
kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu sangat tepat untuk di koleksi oleh
kalangan intelektual lokal maupun intelektual metropolitan. Bagi peresensi
kitab ini, sangat tepat untuk di sebut "Bank Data Naqli Untuk Problem
Teologi



0 komentar:
Posting Komentar