Labels

Minggu, 07 Oktober 2012

Muhammadiyah tapi tidak Muhammadiyah Oriented


Buya Hamka
  Hamka terlahir pada 14 Muharram 1326 H bertepatan dengan 16 februari 1908 di Ranah Minang tepatnya di kampung Molek, Nagari Sungai Batang Maninjau, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, Sumatera Barat (sumbar). Rumahnya berbahan kayu berukuran 17 × 9 meter yang berdiri di areal sekitar 75 meter persegi.
Untuk sampai ke Nagari Kecil di tepian danau Vulkanis yang indah tersebut, dari kota Padang bisa melalui kota Pariaman, berjarak sekitar 140 km ke arah utara. Atau bisa juga melalui Bukit Tinggi, kira – kira 50 km di sebelah barat kota wisata itu. Dari bukit tinggi, sebelum sampai di Maninjau, anda akan melalui jalan bertikungan tajam sebanyak 44 kali.
Hamka kecil yang bernama Abdul Malik tumbuh dilingkungan yang taat menegakkan Sunnah Rasul, selain ayahnya yang seorang ulama, ibunya yang bernama Siti Safiyah Binti Gelanggar juga seorang yang terkenal dan bergelar Bagindo Nan Batuah.
Hamka sempat bersekolah dasar di Maninjau hingga kelas dua selanjutnya beliau mempelajari agama dan mendalami bahasa arab di Sumatera Thawalib yang didirikan oleh ayahnya di Padang Panjang, ayahnya Karim Amrullah atau dikenal sebagai Haji Rasul adalah seorang pelopor gerakan pembaharuan (tajdid) Minangkabau dan juga Indonesia, bersama Abdullah Ahmad dari Padang, Karim menjadi orang Indonesia pertama yang memperooleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kepakarannya dalam ilmu fiqih.
   Pada tahun 1924 Hamka berangkat ke Pulau Jawa untuk mengikuti kursus pergerakan Islam kepada para tokoh pergerakan seperti HOS Cokroaminoto, H Fachruddin, RM. Suryopranto, Ki Bagus Hadikusumo dan juga Hamka pulang kembali ke Padang Panjang pada tahun 1925 dan mengarang buku yang berjudul ‘’Chatibul Ummah’’.
Selanjutnya Hamka mulai bergabung sebagai anggota dalam pergerakan Sarekat Islam hingga akhirny a menunaikan ibadah haji ke tanah suci pada tahun 1927.
Sekembalinya dari tanah suci makkah hamka bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa media local seperti pelita andalas seruan islam dan intang islam .
Ketika gerakan Muhammadiyah berkembang dan populer di Sumatera Barat dengan gerakan Tajdid dan gerakan amar makruf nahi munkar maka Hamka menjadi salah seorang pengikutnya. Ketertarikan Buya Hamka dengan Muhamadiyah dikarenakan pergerakan Islam Modern yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan itu sejalan dengan cita-ctanya yaitu untuk memerangi khurafat bidah, dan kebatinan sesat yang masih membelenggu ummat. Saat itu Hamka aktif menulis di Suara Muhammadiyah untuk kepentingan tabligh di Yogyakarta hingga pada tahun 1928 Buya Hamka dipercaya untuk memimpin kepengurusan Muhammadiyah Padang Panjang.
   Pada tahu 1931 Hamka medapat kepercayaan sebagai konsul Muhamadiyyah di Makassar dan sejak itu sosok Buya Hamka semakin menguat dan diperhitungkan dikalangan Muhamadiyyah. Pada tahun 1946 Hamka terpilih menjadi Ketua Majlis Pimpinan Muhamadiyyah di Sumatera Barat dalam konferensi Muhamadiyyah, menggantikan S. Y. Mangkuto sosok Buya Hamka makin populer sebagai Ulama Kharismatik. Pada periode tahun 1950-an dan pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Muhamadiyyah. Seiring kifrah aktifnya dalam pergerakan Muhammadiyyah Buya Hamka tetaplah seorang pendidik dan pendakwah bagi semua kalangan. Buya Hamka dikenal sebagai seorang berlatar belakang Muhamadiyah yang tidak Muhamadiyyah oriented. Pergaulan Buya Hamka terjalin cukup baik dengan banyak kalangan di luar Muhamadiyah, seiring itu pula sosoknya sebagai ulama mulai mendapat pengakuan dari masyarakat luas.
Selain aktif berdakwah didalam negeri, Hamka juga aktif pada forum – forum ulama di tingkat Internasional. Pada tahun 1950 beliau mengunjungi arab Saudi, Mesir, Syiria, Iraq dan Lebanon untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. pada tahun 1952 sempat berkunjung ke Amerika Serikat selama empat bulan. Pada tahun 1954 hamka mengunjungi Burma sebagai perwakilan dari Indonesia dalam Acara Perayaan 2000 Tahun Buddha.
   26 juli 1975 Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan oleh 53 orang Ulama dan aktivis dari berbagai ormas Islam, seperti antara lain NU, Muhamadiyah, Al-Irsyad Al-Washilyah dan Al-ittihadiyyah. Terpilih sebagai Ketua Umum Pertama Prof. Hamka. Salah satu fungsi penting yang diemban oleh organisasi ini adalah memberi Fatwa dan Nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan Ummat Islam sebagai amar ma’ruf dan Nahi Munkar.
   Sang Buya, memang besar dari sebuah Organisasi bernama Muhamadiyah. Namun beliau tidak Ortodok terhadap simbolis yang ada di tubuh Muhamadiyah. Terbukti, dengan bergabungnya beliau dalam sebuah alairan sufistik yang ada di tanah air. Pergaulan beliau dengan sejumlah komunitas agama lain menunjukkan jiwa besar Sang Buya kita ini. Dari titik inilah, penulis berkesimpulan bahwa beliau seorang simpatisan Muhamadiyah tapi tidak muhamadiyah oriented.
   Buya hamka akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat di bulan Ramadhan, jum’at pagi pukul 10.41 WIB tanggal 22 tahun 1401 hijriyah setelah di rawat selama tujuh hari di RS. Pusat Pertamina akibat kompilasi penyakit gula dan jantung yang di deritanya.
Sang Buya pernah berkata :
”mengapa emgkau tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah atau engkau tatap bukit yang hijau dengan lereng yang indah? Gemercik air mengalir, indah. Atau, engkau bangun pada malam hari engkau tatp langit dengan taburan bintang dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau, engkau bangun dengar suara jangkrik katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan. Padahal jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. Kalau ala mini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah”

Potret ulama’ politisi indonesia

   KH.Wahab Chasbullah (1888-1971)

   Banyak orang yg faham bahwa  lingkup ulama’ adalah pesantren, masjid dan temapat-tempat ibadah, satu pemahaman yang perlu dibenahi, pada konteksnya wadah dakwah ulama’ mencakup semua aspek kehidupan,

Sepintas  kita telusuri kehidupan rasullah saw sebagai pengulur estafet tongkat dakwah, albouty dalam fiqih sirahnya beliau mengambarkan sosok revolusioner jahily ini sebagai sahsiah(baca:kepribadian) multi dimensi, selain sebagai pengemban dakwah risalah rabbani, beliau juga seorang politisi lihai yg mampu memimpin bangsa arab manuju kemajuan dalam naungan bendera islam,sampai berkembang hampirr di seantaro benua, dan tdk dapt dipungkiri lagi dakwah melalui diplomasi politik kepada para pengusaa  saat itu, dapat kita rasakn hasilnya  sampai di nusantara kita  ,

Wajar bila potret ulama nusantara kita multidimensi, sebagai warasattul anbiya’ (baca pewaris para nabi)yang terkadang mampu mendapat sebgian ke multian sosok rasul saw,iya beliaulah KH wahab chasbullah yang biasa di sapa mbah wahab chasbullah salah satu sosok ulama’ politisi nusantara..

   Pendiri NU yang sebenarnya ini. Putra Kiai Chasbullah dari Tambakberas, Jombang. Belajar di berbagai pesantren Jawa Timur (termasuk yang dipimpin Kiai Kholil di Bangkalan dan di pesantren kerabatnya, Hasjim Asj'ari, di Tebuireng). Selama 1910-14 belajar di Mekkah, kepada ulama Indonesia terkemuka seperti Mahfuzh Termas dan Ahmad Khatib Minangkabau. Sekembalinya dari tanah Arab, dia menetap di Surabaya dan aktif di berbagai lingkungan sosial yang luas, mendirikan beberapa organisasi yang dapat dipandang sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama, yang didirikan di rumahnya di Surabaya pada bulan Januari 1926.

Sosok ulama’  yang bisa dibilang modernis ini pernah memakai jas ala kaum westrnis yang kala itu lagi diperdebatkan kebolehannya, tpi beliau dg kepribadiannya yg tinggi enggan menggubris hal itu dg tetap memakainya dan masih tetap eksist dalam medan dakwahnya, dan memimpin pesantren tambakberas yang sekarang terkenal dengan ponpest bahrul ulum,

Beliau semula menjabat sebagai sekretaris (katib) Syuriyah, tetapi segera menarik diri ke belakang sebagai mustasyar. Pada 1942 dia kembali maju ke depan, menggantikan Machfoezh Siddiq sebagai ketua umum. Pada saat pembentukan Masyumi pada 1943, Kiai Wahab menjadi salah seorang wakil NU di kepengurusannya. Dia juga mewakili Masyumi, dan sejak 1952 mewakili NU, di DPR. Ketika Hasjim Asj'ari meninggal peda 1947, Kiai Wahab menggantikannya sebagai Rois Aam, posisi yaag tetap berada di tangannya sampai akhir hayatnya pada 1971.Mbah  Wahab adalah pengagum berat Soekarno, dan di bawah pimpinannya NU senantiasa mendukung hampir semua kebijakan Soekarno. Setelah kejatuhan Soekarno, Kiai Wahab secara formal tetap menduduki jabatannya tetapi dalam prakteknya kehilangan seluruh pengaruhnya di NU.

    Tapi kita tidak bisa melupakan jasa beliau kepada umat islam Indonesia  yang merupakan jamaah haji  terbesar kuotanaya diarab saudi, dan bisa dibilang sedunia sewaktu isu pembongkaran makam rasullah saw yang akan dilakukan oleh kerajaan saudi, belaiu pun bergegas mengumpulkan ulama’ nusantara untuk merundingkan masalah yg serius ini, wal hasil beliau ditunjuk sebagai wakil ulama’ Indonesia yang menolak keras pembongkarn trsebut dan akhirnya beliau berhasil  dengan diplomasi beliau yang handal,sehingga sampai sekarang kita bisa menziarahi makam rasullah saw itu.

Resensi Kitab


Judul Kitab      : Al-Asma'u Wa Al-Ashifat
Pengarang      : Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi
Tebal               : 512 Halaman
Penerbit           : Dar Ihya' Al-Turast Al-Araby
Peresensi        : Muhammad Fathullah Az-zarkasyi[1]
            Perang argument serial aqidah bukan barang baru dalam sejarah intelektual islam. ini terbukti dengan munculnya sejumlah aliran dalam teritorial aqidah islam. pada babak awal pembentukan Dinasti Umayyah, muncul sebuah pemikiran yang di kemudian hari, di kenal dengan istilah Jabariyyah (fatalisme). Aliran ini, berfaham tidak ada ikhtiar bagi manusia. Bagi jabariyyah, manusia ibarat sehelai rambut yang di terbangkan oleh angin, kemanapun dan sampai kapan pun.
            Demi mengukuhkan, kekuasaan nya Muawwiyyah kemudian memunculkan sebuah argument, bahwa apa yang terjadi antara dia dengan imam Ali bin aby tholib, merupakan kehendak Allah SWT yang harus terjadi dan kami tidak punya kekuatan untuk menghindarinya karena kita hanya menjalankan kehendak Allah SWT. Titik inilah yang kemudian menjadi cirri khas pemikiran para raja dalam islam. kita bisa lihat, ketika dinasti umayyah runtuh dan muncul dinasti Abbasiyyah, pun juga di tandai dengan konsep jabariyyah di awal gerakan membangun pengaruh terhadap ummat islam.  konsep Jabariyyah di tuduh sebagai biang kerok kemunduran Islam. karena dengan memakai pemahaman jabariyyah seseorang tidak akan mau berusaha karena apapun usahanya semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan.
Dengan harapan perubahan Ummat, Mu'tazilah pun lahir dengan mengusung pemahaman "taqdir" adalah hasil upaya manusia sendiri. Karena tuhan itu adil maka tidak mungkin Dia menjadikan manusia jahat lalu kemudian menghukumnya. Kejahatan manusia adalah upaya manusia sendiri hingga ia pantas untuk di hukum. Pandangan Mu'tazilah ini mendapat kecaman dan penolakan dari kelompok Asy'ariyah dengan menawarkan jalan tengah. Sehingga seorang Asy'ariyah akan menjadi Mu'tazilah di saat dia berupaya melakukan sesuatu dan mengambil posisi Jabariyah ketika mendapatkan hasil usahanya. Dalam manuvernya Mu'tazilah cukup berjasa bagi kemajuan ummat Islam. karena dengan faham yang di yakininya seorang Mu'tazilah akan berusaha melakukan yang terbaik demi kepentingannya di dunia dan di akhirat. Pujian serupa juga sempat keluar dari seorang imam Asy'ari dengan mengatakan bahwa Mu'tazilah telah berjasa pada agama Islam karena telah menyelamatkan pemikiran Islam dari rong – rongan pilsapat yunani.
Kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu merupakan terobosan dari seorang Ulama' yang meninggalkan kita di tahun 458 H, dalam rangka reboisasi kembali wacana teologi Islam. Berangkat dari sebuah keprihatinan Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi terhadap tingginya diagram wacana Bid'ah yang bermunculan di tengah gulatan pemikiran keislaman saat ini. Di tambah munculnya sejumlah aliran, madzhab, sekte dan firqoh yang menjadikan teologi sebagai batu loncatan wacana di tengah kampung pemikiran Islam.
            Dua alasan tersebut, menjadi titik simpul pemikiran Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi dalam kitab ini. Sehingga dengan tegas beliau menyatakan : "kitab nama-nama Allah Jalla Tsana'uh dan sifat-sifat – Nya, yang berangkat melalui legalitas Al-Qur'an atas kebenarannya atau legalitas Sunnah Rasulullah SAW atau legalitas Ijma' Salaf ummat ini, sebelum munculnya firqoh (seperti : muktazilah, jabariyyah dan lain-lain) dan maraknya wacana Bid'ah di tengah peradaban keilmuan Islam".
            Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi menabuh Bedug argumentasinya dalam kitab ini, dengan Bab 'Adad Al-Asama' Al-Laty Akhbarha Al-Nabi Saw Anna Man Ahshoha Dakhala Al-Jannah. Pada pembahasan ini, Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi mengangkat ungkapan Rasulullah dari Abi Hurairoh, Rasulullah bersabda : "sesungguhnya bagi Allah Sembilan puluh Sembilan nama, seratus selain satu. Barang siapa menghapalnya masuk syurga dan dia maha ganjil serta mencintai yang ganjil". Di sisi lain kitab yang kita bahas ini, menawarkan wacana "Allah Tertawa". Sepintas tawaran Imam Al-Baihaqi ini sangat berbahaya, tetapi luasnya pengetahuan sang imam, mampu menguraikannya di atas bangunan fakta dan data bukan berdasarkan sentimentil tanpa dasar.
            Tegasnya kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu sangat tepat untuk di koleksi oleh kalangan intelektual lokal maupun intelektual metropolitan. Bagi peresensi kitab ini, sangat tepat untuk di sebut "Bank Data Naqli Untuk Problem Teologi


[1]

Demokrasi Nasab


Oleh: Muhammad Fathullah*
Nabi Muhmmad SAW merupakan icon kebangkitan agama samawi, setelah tenggelam dalam cerita kebiadaban manusia. Usaha merobohkan akhlaq manusia melalui kultus budaya dan hegemoni nasab. Menuai kesuksesan di sebuah jazirah yang di kenal dengan nama Jazirah Arab. Robohnya bangunan peradaban moralitas dan rasionalitas di kawasan Arab, di tandai dengan deklarasi islam terhadap pulau ini, melalui klaim jahiliah. Fase jahiliah di kenal sebagai cikal bakal lahirnya seorang putra terbaik Quraisy. Putra Quraisy inilah, yang kemudian menghapus image Jahiliah dari tanah Arab.
Episode Jahiliah merupakan, cerita kelam di tanah Arab, yang tidak sepantasnya untuk di angkat menjadi kajian sejarah. Namun kebesaran sang putra Quraisy berada di balik kelam dan kebiadaban bangsa Jahiliah. Megubur anak perempuan dalam keadaan hidup, merupakan bukti (dalalah) tak terbantahkan bahwa robohnya peradaban manusia ditandai dengan rusaknya artikulasi dan implementasi makna nasab dalam rasio manusia. Tawaran pemikiran dari penulis ini, bisa di lihat dengan beberapa fakta sejarah, diantaranya :
1.    Penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup yang di lakukan oleh bangsa jahiliah, demi mempertahankan eksistensi Qabilah dalam hegemoni nasab.
2.    Adlof Hitler (1889 - 1945)
Sosok yang terkenal sadis, loyal pada partai, otoriter dan ambisius. Hitler di lahirkan di Braunau Am Inn, Austria pada 20 april 1889 dari seorang ayah bernama Alois Hitler, seorang pensiunan pegawai bea cukai. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Hitler menduduki pimpinan puncak partai Nazi di Jerman.
Tahun 1929 menandai lahirnya rezim hitler, yang sangat mengerikan. Ambisius seorang Hitler untuk mempertahankan hegemoni Nasab keturunan asli jerman memaksanya untuk menggunakan konsep eugenetika, konsep ini bisa di artikan sebagai perbaikan ras manusia dengan memperbanyak individu – individu yanga sehat dan membuang individu yang cacat atau sakit. Individu yang sehat bisa di hasilkan melalui perkawinan individu yang sehat pula.
Hitler menerapkan konsep tersebut dengan tangan besi dan hasilnya sungguh mengerikan. Orang-orang lanjut usia, cacat fisik dan mental serta penyakitan dari seluruh Jerman dikumpulkan dalam suatu pusat sterilisasi khusus. Di sini mereka di habisi karena di anggap parasit. Untuk mendapatkan Ras Arya (Jerman) murni, ia menganjurkan pemuda – pemudi jerman yang berambut blonde (pirang) dan bermata biru untuk melakukan seks bebas.
Hingga 1935, sebagai diktator ia mendirikan ladang - ladang khusus reproduksi mausia. Didalamnya pemudi – pemudi Jerman di kumpulkan dan harus melayani setiap pria dari rasa Arya yang masuk, demi mendapatkan keturunan yang unggul.
Yang lebih gila, ukuran tengkorak manusia jerman terutama yang baru lahir juga di ukur, ini karena menurut teori Darwin, volume otak makhluk hidup akan membesar saat menaiki tangga evolusi. Akibatnya bayi yang mempunyai volume otak tak sesuai harus juga di singkirkan.
Hitler, satu dari ratusan cerita mengerikan, akibat rusaknya pola pikir ummat manusia dalam memahami makna nasab. Karenanya, muncul di tanah tandus – kering seorang putra terbaik Quraisy, oleh kakeknya di perkenalkan kepada Dunia denga nama Muhammad.
Dengan misi Demokrasi Nasab, Muhammad mulai memperkenalkan ajarannya yang bersumber dari Sang Maha Pencipta, semuanya berawal dari sejarah gelap Gua Khiro. Kehidupan Jahiliah memaksa Muhammad untuk melakukan persemedian di dalam gua, mencari sebuah solusi terhadap sistim kehidupan yang sulit di terima oleh rasio sehat kala itu. Gua Khiro, menjadi saksi bisu turunnya tawaran membaca masalah, melakukan analisis dan eksperimen secara berkesinambungan, terhadap body teks Al – Qur'an dan Al – Hadits An – Nabawiyyah guna melakuka reboisasi terhadap sisi ubudiyyah dan amaliyyah ummat Islam (amanat surat Al - Alaq). Dari titik inilah, wacana syari'at islam terus berkibar di antara ratusan bendera ormas, dengan mengusung tema formalisasi atau non formalisasi syariat. Perjuangan atas nama formalisasi syari'at, menjadi  santapan media untuk di pasarkan ke tengah rakyat Indonesia. Dari sinilah Islam Idonesia bagai cerita Tom and Jerry.
Kalau kita kembali kepada sejarah hijrah, akan kita temukan perjuangan terbesar Nabi Muhammad SAW membangun prinsip Islam yang tidak mempertahakan Ras, keturunan dan suku. Karena inti terbesar ajaran Islam menyelamatkan kehidupan ummat manusia dari kesenjangan ekonomi, ketidakadilan dan keamanan yang meliputi harta dan jiwa. Sehingga praktik Hijrah, ke negeri Habasyah (etiofia), terjadi bertepatan dengan meningkatnya volume kekerasan yang di lakukan oleh kaum Quraisy terhadap para sahabat Rasulullah di kota Makkah. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan para sahabat Rasulullah, maka solusi Hijrah menjadi tawaran yang tepat saat itu.
Melihat praktik Hijrah Habasyah, dua pelajaran besar yang di tawarkan kepada kita untuk membangun Islam Indonesia kearah yang lebih bersatu, bersama dan eksis sebagai pelopor cinta damai. Deklarasi dari Rasulullah bahwa islam terlahir bukan membentuk kotak tetapi dalam rangka membuat ruang, yang semua orang di dalamnya berada dalam strata sama. Guna menciptakan ketentraman hidup antar semua ras dan golongan. Berangkat dari titik inilah, kita bisa melihat tiga manuver penting, yang di tawarkan Rasulullah SAW :
1.    Perintah Hijrah Nabi ke negeri Habasyah.
Manuver pertama ini, jika di lihat dengan kaca mata Radikalisme maka tampak sangat kontroversial. Karena Negeri Habasyah merupakan kota dengan penganut Agama Nashrani. Namun, hubungan bilateral antara Rasulullah dengan Negeri Habasyah tetap terlaksana demi menyelamatkan kehidupan Ummat Islam dari gangguan kaum Musyriqin Quraisy.
2.    Nabi dan Pamannya Abu Tholib
Praktik kerjasama antara Nabi Muhammad SAW dengan paman beliau Abu Tholib. Sosok Abu Tholib mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan dakwah al – islamiah. Dalam pada itu, sosok Abu Tholib terkenal sebagai garda terdepan pembela Nabi Muhammad SAW, tetap berada dalam kondisi tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW melalui simbolitas syahadah.
Legalitas ayat al – qur'an diatas, terhadap kekafiran Abu Tholib, menjadi Argumentasi, bahwa kerja sama dalam rangka menyelamatkan prinsip perjuangan Islam berupa keselamatan, keadilan dan keamanan tidak mengenal teritorial suku, ras dan agama.
3.    Icon Ansor dan Muhajirin  
Fakta sejarah ketiga yang ingin penulis tawarkan terkait munculnya Istilah Asor dan Muhajirin di babak awal Dakwah Al – Islamiah. Dua istilah yang lahir secara bersamaan di tengah – tengah Dunia Islam kala itu, bukan lahir tanpa sejarah. Dapat dikatakan, Muhajirin dan Ansor merupakan lambang kebangkitan Islam.
Hijrah Nabi Muhammad SAW ke madinah bersama para sahabatnya, menandai kelahiran sejarah islam. Dengan fakta, hitungan Tahun Islam, di kenal dengan Tahun Hijriah di mulai dari peristiwa besar ini. Cerita Inilah, kemudian mendongkrak nama daerah yang pra islam dikenal dengan nama Yastrib menjadi kota Nabi (Madinah An - Nabawiyyah). Di kota Nabi (baca : madinah) inilah, babak baru Islam di mulai, di tandai dengan lahirnya peristiwa – peristiwa besar yang pada gilirannya menghantarkan Islam pada masa kejayaan serta menghantarkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya pada masa sulit. Satu masa di mana kita harus mengakui kembali betapa Demokrasi Nasab, merupakan kunci dasar membangun dan merekat Ummat Islam dalam satu kekuatan. Persatuan dan kekuatan Ummat Islam pernah berada di ambang pintu kehancuran.
 Berawal dari ulah orang munafik membuka jendela wacana keruh dalam Islam ketika Rasulullah berada dalam perjalanan kembali ke madinah. Letupan emosi yang terpendam puluhan tahun yang lalu di tumpah ruahkan dalam moment satu menit. Tawaran menakutkan dan melahirkan sikap melanjutkan perjalanan dari Rasulullah SAW, dengan harapan Ummat Islam mampu melupakan perkataan orang Munafik tersebut. Mereka berusaha membangun jurang perbedaan antara kaum Muhajirin dan Ansor, dengan lantang mereka berteriak "sungguh kaum Quraisy telah menyaingi kita dan mengungguli kita di dalam rumah kita sendiri". "Kau gemukkan anjingmu untuk menerkammu".
Sebuah pernyataan yang membuat sahabat Umar Bi Khathab menghunuskan pedangnya. Namun Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan tidak. Beliau hendak mengajarkan kepada kita, bahwa kekuatan agama ini terletak pada persatuan dan kesatuan. Untuk membangun tali persatuan tersebut, maka lahirlah kultus sahabat pada masa Rasulullah, dengan membuang sejauh-jauhnya baju nasab yang sangat riskan melahirkan perpecahan di dalam tubuh ummat islam. sehingga munculnya golongan Syi'ah dan lain sebagainya, seringkali menghalalkan segala cara guna mengorbitkan keras kepala mereka. Patut menjadi pelajaran berharga bagi ummat islam masa kini.
Rasulullah SAW ketika menginjakkan kakinya di Madinah bertemu dengan kaum Yahudi yang sampai detik ini, merong – rong keberadaan Ummat Islam. Dalam anggapan mereka risalah kenabian tepatnya turun pada nasab orang-orang Yahudi. Dari titik simpul inilah, Islam menjadikan Taqwa sebagai parameter kemuliaan dan level strata Muslim di hadapan Allah SWT. Baju Yahudi, baju Quraisy dan hegemoni penduduk asli harus di tanggalkan. Kemudian memasuki lembah Islam dengan pangkat sahabat serta duduk dalam kursi yang sama, guna memperbaiki moralitas dan membangun ekonomi ummat melalui icon tijaroh.
Akhirnya, jelaslah bahwa istilah Ansor dan Muhajirin bertujuan membangun persatuan dan kesatuan dengan berpegang teguh pada ajaran dan arahan dari Rasulullah SAW. Dengan membangun rasa persahabatan diantara sahabat – sahabatnya, maka Rasulullah mampu melebarkan Islam ke seluruh jazirah Arab.
Demokrasi Nasab, yang penulis tawarkan pada edisi kali ini, merupakan salah satu faktor terhambatnya arus demokrasi dan reformasi di Indonesia. Dalam pada itu, sangat tepat untuk di katakan lahirnya korupsi, kolusi dan nepotisme berawal dari kultus istilah Nasab di tengah masyarakat. Menjadi kewajiban kita sebagai mahasiswa untuk melakukan kampanye demokrasi nasab demi terciptanya sila kelima "keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia". Melakukan amandemen terhadap istilah nasab yang ada di sejumlah daerah Indonesia, merupakan syarat mutlak untuk mempersempit ruang gerak nepotisme. Jika tidak, maka dampak terbesar yang akan muncul berupa terpasungnya hak politik, hak ekonomi dan menjamurnya nepotisme di berbagai bidang kehidupan.
Kita tidak ingin mendengar surat kabar berbicara tentang cerita Bupati dengan Pertamina nasabnya. Menteri yang meluncurkan dana dalam partai besar dengan alasan kurang tepat, tetapi lebih karena pengaruh kesatuan visi dan misi dari segi nasab. Maka dalam konteks membendung terjadinya ummat yang membanggakan nenek moyangnya ala Yahudi serta mewujudkan keadilan ekonomi, keadilan berbicara dan keadilan politik di akhir hayatnya Rasulullah tidak menyatakan keluargaku, keluargaku, keluargaku tetapi beliau menyatakan Ummatku, Ummatku, Ummatku . . . . . . . !
Salam Islam Moderat  . . . . . . .

*Penulis adalah Mahasiswa Fak. Dirosah Islamiyah Tingkat III Darul Ulum al-Syariyah Univercity.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...