Buya Hamka
Hamka terlahir pada 14 Muharram
1326 H bertepatan dengan 16 februari 1908 di Ranah Minang tepatnya di kampung Molek,
Nagari Sungai Batang Maninjau, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, Sumatera
Barat (sumbar). Rumahnya berbahan kayu berukuran 17 × 9 meter yang berdiri di areal
sekitar 75 meter persegi.
Untuk sampai ke Nagari Kecil di
tepian danau Vulkanis yang indah tersebut, dari kota Padang bisa melalui kota Pariaman,
berjarak sekitar 140 km ke arah utara. Atau bisa juga melalui Bukit Tinggi,
kira – kira 50 km di sebelah barat kota wisata itu. Dari bukit tinggi, sebelum
sampai di Maninjau, anda akan melalui jalan bertikungan tajam sebanyak 44 kali.
Hamka kecil yang bernama Abdul
Malik tumbuh dilingkungan yang taat menegakkan Sunnah Rasul, selain ayahnya
yang seorang ulama, ibunya yang bernama Siti Safiyah Binti Gelanggar juga
seorang yang terkenal dan bergelar Bagindo Nan Batuah.
Hamka sempat bersekolah dasar di Maninjau
hingga kelas dua selanjutnya beliau mempelajari agama dan mendalami bahasa arab
di Sumatera Thawalib yang didirikan oleh ayahnya di Padang Panjang, ayahnya Karim
Amrullah atau dikenal sebagai Haji Rasul adalah seorang pelopor gerakan
pembaharuan (tajdid) Minangkabau dan juga Indonesia, bersama Abdullah Ahmad
dari Padang, Karim menjadi orang Indonesia pertama yang memperooleh Doctor
Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kepakarannya dalam
ilmu fiqih.
Pada tahun 1924 Hamka berangkat
ke Pulau Jawa untuk mengikuti kursus pergerakan Islam kepada para tokoh
pergerakan seperti HOS Cokroaminoto, H Fachruddin, RM. Suryopranto, Ki Bagus
Hadikusumo dan juga Hamka pulang kembali ke Padang Panjang pada tahun 1925 dan
mengarang buku yang berjudul ‘’Chatibul Ummah’’.
Selanjutnya Hamka mulai bergabung
sebagai anggota dalam pergerakan Sarekat Islam hingga akhirny a menunaikan
ibadah haji ke tanah suci pada tahun 1927.
Sekembalinya dari tanah suci
makkah hamka bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa media local
seperti pelita andalas seruan islam dan intang islam .
Ketika gerakan Muhammadiyah
berkembang dan populer di Sumatera Barat dengan gerakan Tajdid dan gerakan amar
makruf nahi munkar maka Hamka menjadi salah seorang pengikutnya. Ketertarikan
Buya Hamka dengan Muhamadiyah dikarenakan pergerakan Islam Modern yang
didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan itu sejalan dengan cita-ctanya yaitu untuk
memerangi khurafat bidah, dan kebatinan sesat yang masih membelenggu ummat. Saat
itu Hamka aktif menulis di Suara Muhammadiyah untuk kepentingan tabligh di
Yogyakarta hingga pada tahun 1928 Buya Hamka dipercaya untuk memimpin
kepengurusan Muhammadiyah Padang Panjang.
Pada tahu 1931 Hamka medapat
kepercayaan sebagai konsul Muhamadiyyah di Makassar dan sejak itu sosok Buya
Hamka semakin menguat dan diperhitungkan dikalangan Muhamadiyyah. Pada tahun
1946 Hamka terpilih menjadi Ketua Majlis Pimpinan Muhamadiyyah di Sumatera
Barat dalam konferensi Muhamadiyyah, menggantikan S. Y. Mangkuto sosok Buya
Hamka makin populer sebagai Ulama Kharismatik. Pada periode tahun 1950-an dan
pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Muhamadiyyah. Seiring
kifrah aktifnya dalam pergerakan Muhammadiyyah Buya Hamka tetaplah seorang
pendidik dan pendakwah bagi semua kalangan. Buya Hamka dikenal sebagai seorang
berlatar belakang Muhamadiyah yang tidak Muhamadiyyah oriented. Pergaulan Buya
Hamka terjalin cukup baik dengan banyak kalangan di luar Muhamadiyah, seiring
itu pula sosoknya sebagai ulama mulai mendapat pengakuan dari masyarakat luas.
Selain aktif berdakwah didalam
negeri, Hamka juga aktif pada forum – forum ulama di tingkat Internasional.
Pada tahun 1950 beliau mengunjungi arab Saudi, Mesir, Syiria, Iraq dan Lebanon
untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. pada tahun 1952
sempat berkunjung ke Amerika Serikat selama empat bulan. Pada tahun 1954 hamka
mengunjungi Burma sebagai perwakilan dari Indonesia dalam Acara Perayaan 2000
Tahun Buddha.
26 juli 1975 Majelis Ulama
Indonesia (MUI) didirikan oleh 53 orang Ulama dan aktivis dari
berbagai ormas Islam, seperti antara lain NU, Muhamadiyah, Al-Irsyad
Al-Washilyah dan Al-ittihadiyyah. Terpilih sebagai Ketua Umum Pertama Prof.
Hamka. Salah satu fungsi penting yang diemban oleh organisasi ini adalah memberi
Fatwa dan Nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada
pemerintah dan Ummat Islam sebagai amar ma’ruf dan Nahi Munkar.
Sang Buya, memang besar dari
sebuah Organisasi bernama Muhamadiyah. Namun beliau tidak Ortodok terhadap simbolis
yang ada di tubuh Muhamadiyah. Terbukti, dengan bergabungnya beliau dalam
sebuah alairan sufistik yang ada di tanah air. Pergaulan beliau dengan sejumlah
komunitas agama lain menunjukkan jiwa besar Sang Buya kita ini. Dari titik
inilah, penulis berkesimpulan bahwa beliau seorang simpatisan Muhamadiyah tapi
tidak muhamadiyah oriented.
Buya hamka akhirnya menghembuskan
nafas terakhirnya tepat di bulan Ramadhan, jum’at pagi pukul 10.41 WIB tanggal
22 tahun 1401 hijriyah setelah di rawat selama tujuh hari di RS. Pusat
Pertamina akibat kompilasi penyakit gula dan jantung yang di deritanya.
Sang Buya pernah
berkata :
”mengapa emgkau
tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah atau engkau
tatap bukit yang hijau dengan lereng yang indah? Gemercik air mengalir, indah.
Atau, engkau bangun pada malam hari engkau tatp langit dengan taburan bintang
dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau, engkau bangun dengar
suara jangkrik katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini
harus kita isi dengan kejelekan. Padahal jelek itu tidak pernah bersatu dengan
keindahan. Kalau ala mini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan
terpancar pribadi yang indah”


