Labels

Minggu, 07 Oktober 2012

Demokrasi Nasab


Oleh: Muhammad Fathullah*
Nabi Muhmmad SAW merupakan icon kebangkitan agama samawi, setelah tenggelam dalam cerita kebiadaban manusia. Usaha merobohkan akhlaq manusia melalui kultus budaya dan hegemoni nasab. Menuai kesuksesan di sebuah jazirah yang di kenal dengan nama Jazirah Arab. Robohnya bangunan peradaban moralitas dan rasionalitas di kawasan Arab, di tandai dengan deklarasi islam terhadap pulau ini, melalui klaim jahiliah. Fase jahiliah di kenal sebagai cikal bakal lahirnya seorang putra terbaik Quraisy. Putra Quraisy inilah, yang kemudian menghapus image Jahiliah dari tanah Arab.
Episode Jahiliah merupakan, cerita kelam di tanah Arab, yang tidak sepantasnya untuk di angkat menjadi kajian sejarah. Namun kebesaran sang putra Quraisy berada di balik kelam dan kebiadaban bangsa Jahiliah. Megubur anak perempuan dalam keadaan hidup, merupakan bukti (dalalah) tak terbantahkan bahwa robohnya peradaban manusia ditandai dengan rusaknya artikulasi dan implementasi makna nasab dalam rasio manusia. Tawaran pemikiran dari penulis ini, bisa di lihat dengan beberapa fakta sejarah, diantaranya :
1.    Penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup yang di lakukan oleh bangsa jahiliah, demi mempertahankan eksistensi Qabilah dalam hegemoni nasab.
2.    Adlof Hitler (1889 - 1945)
Sosok yang terkenal sadis, loyal pada partai, otoriter dan ambisius. Hitler di lahirkan di Braunau Am Inn, Austria pada 20 april 1889 dari seorang ayah bernama Alois Hitler, seorang pensiunan pegawai bea cukai. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Hitler menduduki pimpinan puncak partai Nazi di Jerman.
Tahun 1929 menandai lahirnya rezim hitler, yang sangat mengerikan. Ambisius seorang Hitler untuk mempertahankan hegemoni Nasab keturunan asli jerman memaksanya untuk menggunakan konsep eugenetika, konsep ini bisa di artikan sebagai perbaikan ras manusia dengan memperbanyak individu – individu yanga sehat dan membuang individu yang cacat atau sakit. Individu yang sehat bisa di hasilkan melalui perkawinan individu yang sehat pula.
Hitler menerapkan konsep tersebut dengan tangan besi dan hasilnya sungguh mengerikan. Orang-orang lanjut usia, cacat fisik dan mental serta penyakitan dari seluruh Jerman dikumpulkan dalam suatu pusat sterilisasi khusus. Di sini mereka di habisi karena di anggap parasit. Untuk mendapatkan Ras Arya (Jerman) murni, ia menganjurkan pemuda – pemudi jerman yang berambut blonde (pirang) dan bermata biru untuk melakukan seks bebas.
Hingga 1935, sebagai diktator ia mendirikan ladang - ladang khusus reproduksi mausia. Didalamnya pemudi – pemudi Jerman di kumpulkan dan harus melayani setiap pria dari rasa Arya yang masuk, demi mendapatkan keturunan yang unggul.
Yang lebih gila, ukuran tengkorak manusia jerman terutama yang baru lahir juga di ukur, ini karena menurut teori Darwin, volume otak makhluk hidup akan membesar saat menaiki tangga evolusi. Akibatnya bayi yang mempunyai volume otak tak sesuai harus juga di singkirkan.
Hitler, satu dari ratusan cerita mengerikan, akibat rusaknya pola pikir ummat manusia dalam memahami makna nasab. Karenanya, muncul di tanah tandus – kering seorang putra terbaik Quraisy, oleh kakeknya di perkenalkan kepada Dunia denga nama Muhammad.
Dengan misi Demokrasi Nasab, Muhammad mulai memperkenalkan ajarannya yang bersumber dari Sang Maha Pencipta, semuanya berawal dari sejarah gelap Gua Khiro. Kehidupan Jahiliah memaksa Muhammad untuk melakukan persemedian di dalam gua, mencari sebuah solusi terhadap sistim kehidupan yang sulit di terima oleh rasio sehat kala itu. Gua Khiro, menjadi saksi bisu turunnya tawaran membaca masalah, melakukan analisis dan eksperimen secara berkesinambungan, terhadap body teks Al – Qur'an dan Al – Hadits An – Nabawiyyah guna melakuka reboisasi terhadap sisi ubudiyyah dan amaliyyah ummat Islam (amanat surat Al - Alaq). Dari titik inilah, wacana syari'at islam terus berkibar di antara ratusan bendera ormas, dengan mengusung tema formalisasi atau non formalisasi syariat. Perjuangan atas nama formalisasi syari'at, menjadi  santapan media untuk di pasarkan ke tengah rakyat Indonesia. Dari sinilah Islam Idonesia bagai cerita Tom and Jerry.
Kalau kita kembali kepada sejarah hijrah, akan kita temukan perjuangan terbesar Nabi Muhammad SAW membangun prinsip Islam yang tidak mempertahakan Ras, keturunan dan suku. Karena inti terbesar ajaran Islam menyelamatkan kehidupan ummat manusia dari kesenjangan ekonomi, ketidakadilan dan keamanan yang meliputi harta dan jiwa. Sehingga praktik Hijrah, ke negeri Habasyah (etiofia), terjadi bertepatan dengan meningkatnya volume kekerasan yang di lakukan oleh kaum Quraisy terhadap para sahabat Rasulullah di kota Makkah. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan para sahabat Rasulullah, maka solusi Hijrah menjadi tawaran yang tepat saat itu.
Melihat praktik Hijrah Habasyah, dua pelajaran besar yang di tawarkan kepada kita untuk membangun Islam Indonesia kearah yang lebih bersatu, bersama dan eksis sebagai pelopor cinta damai. Deklarasi dari Rasulullah bahwa islam terlahir bukan membentuk kotak tetapi dalam rangka membuat ruang, yang semua orang di dalamnya berada dalam strata sama. Guna menciptakan ketentraman hidup antar semua ras dan golongan. Berangkat dari titik inilah, kita bisa melihat tiga manuver penting, yang di tawarkan Rasulullah SAW :
1.    Perintah Hijrah Nabi ke negeri Habasyah.
Manuver pertama ini, jika di lihat dengan kaca mata Radikalisme maka tampak sangat kontroversial. Karena Negeri Habasyah merupakan kota dengan penganut Agama Nashrani. Namun, hubungan bilateral antara Rasulullah dengan Negeri Habasyah tetap terlaksana demi menyelamatkan kehidupan Ummat Islam dari gangguan kaum Musyriqin Quraisy.
2.    Nabi dan Pamannya Abu Tholib
Praktik kerjasama antara Nabi Muhammad SAW dengan paman beliau Abu Tholib. Sosok Abu Tholib mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan dakwah al – islamiah. Dalam pada itu, sosok Abu Tholib terkenal sebagai garda terdepan pembela Nabi Muhammad SAW, tetap berada dalam kondisi tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW melalui simbolitas syahadah.
Legalitas ayat al – qur'an diatas, terhadap kekafiran Abu Tholib, menjadi Argumentasi, bahwa kerja sama dalam rangka menyelamatkan prinsip perjuangan Islam berupa keselamatan, keadilan dan keamanan tidak mengenal teritorial suku, ras dan agama.
3.    Icon Ansor dan Muhajirin  
Fakta sejarah ketiga yang ingin penulis tawarkan terkait munculnya Istilah Asor dan Muhajirin di babak awal Dakwah Al – Islamiah. Dua istilah yang lahir secara bersamaan di tengah – tengah Dunia Islam kala itu, bukan lahir tanpa sejarah. Dapat dikatakan, Muhajirin dan Ansor merupakan lambang kebangkitan Islam.
Hijrah Nabi Muhammad SAW ke madinah bersama para sahabatnya, menandai kelahiran sejarah islam. Dengan fakta, hitungan Tahun Islam, di kenal dengan Tahun Hijriah di mulai dari peristiwa besar ini. Cerita Inilah, kemudian mendongkrak nama daerah yang pra islam dikenal dengan nama Yastrib menjadi kota Nabi (Madinah An - Nabawiyyah). Di kota Nabi (baca : madinah) inilah, babak baru Islam di mulai, di tandai dengan lahirnya peristiwa – peristiwa besar yang pada gilirannya menghantarkan Islam pada masa kejayaan serta menghantarkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya pada masa sulit. Satu masa di mana kita harus mengakui kembali betapa Demokrasi Nasab, merupakan kunci dasar membangun dan merekat Ummat Islam dalam satu kekuatan. Persatuan dan kekuatan Ummat Islam pernah berada di ambang pintu kehancuran.
 Berawal dari ulah orang munafik membuka jendela wacana keruh dalam Islam ketika Rasulullah berada dalam perjalanan kembali ke madinah. Letupan emosi yang terpendam puluhan tahun yang lalu di tumpah ruahkan dalam moment satu menit. Tawaran menakutkan dan melahirkan sikap melanjutkan perjalanan dari Rasulullah SAW, dengan harapan Ummat Islam mampu melupakan perkataan orang Munafik tersebut. Mereka berusaha membangun jurang perbedaan antara kaum Muhajirin dan Ansor, dengan lantang mereka berteriak "sungguh kaum Quraisy telah menyaingi kita dan mengungguli kita di dalam rumah kita sendiri". "Kau gemukkan anjingmu untuk menerkammu".
Sebuah pernyataan yang membuat sahabat Umar Bi Khathab menghunuskan pedangnya. Namun Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan tidak. Beliau hendak mengajarkan kepada kita, bahwa kekuatan agama ini terletak pada persatuan dan kesatuan. Untuk membangun tali persatuan tersebut, maka lahirlah kultus sahabat pada masa Rasulullah, dengan membuang sejauh-jauhnya baju nasab yang sangat riskan melahirkan perpecahan di dalam tubuh ummat islam. sehingga munculnya golongan Syi'ah dan lain sebagainya, seringkali menghalalkan segala cara guna mengorbitkan keras kepala mereka. Patut menjadi pelajaran berharga bagi ummat islam masa kini.
Rasulullah SAW ketika menginjakkan kakinya di Madinah bertemu dengan kaum Yahudi yang sampai detik ini, merong – rong keberadaan Ummat Islam. Dalam anggapan mereka risalah kenabian tepatnya turun pada nasab orang-orang Yahudi. Dari titik simpul inilah, Islam menjadikan Taqwa sebagai parameter kemuliaan dan level strata Muslim di hadapan Allah SWT. Baju Yahudi, baju Quraisy dan hegemoni penduduk asli harus di tanggalkan. Kemudian memasuki lembah Islam dengan pangkat sahabat serta duduk dalam kursi yang sama, guna memperbaiki moralitas dan membangun ekonomi ummat melalui icon tijaroh.
Akhirnya, jelaslah bahwa istilah Ansor dan Muhajirin bertujuan membangun persatuan dan kesatuan dengan berpegang teguh pada ajaran dan arahan dari Rasulullah SAW. Dengan membangun rasa persahabatan diantara sahabat – sahabatnya, maka Rasulullah mampu melebarkan Islam ke seluruh jazirah Arab.
Demokrasi Nasab, yang penulis tawarkan pada edisi kali ini, merupakan salah satu faktor terhambatnya arus demokrasi dan reformasi di Indonesia. Dalam pada itu, sangat tepat untuk di katakan lahirnya korupsi, kolusi dan nepotisme berawal dari kultus istilah Nasab di tengah masyarakat. Menjadi kewajiban kita sebagai mahasiswa untuk melakukan kampanye demokrasi nasab demi terciptanya sila kelima "keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia". Melakukan amandemen terhadap istilah nasab yang ada di sejumlah daerah Indonesia, merupakan syarat mutlak untuk mempersempit ruang gerak nepotisme. Jika tidak, maka dampak terbesar yang akan muncul berupa terpasungnya hak politik, hak ekonomi dan menjamurnya nepotisme di berbagai bidang kehidupan.
Kita tidak ingin mendengar surat kabar berbicara tentang cerita Bupati dengan Pertamina nasabnya. Menteri yang meluncurkan dana dalam partai besar dengan alasan kurang tepat, tetapi lebih karena pengaruh kesatuan visi dan misi dari segi nasab. Maka dalam konteks membendung terjadinya ummat yang membanggakan nenek moyangnya ala Yahudi serta mewujudkan keadilan ekonomi, keadilan berbicara dan keadilan politik di akhir hayatnya Rasulullah tidak menyatakan keluargaku, keluargaku, keluargaku tetapi beliau menyatakan Ummatku, Ummatku, Ummatku . . . . . . . !
Salam Islam Moderat  . . . . . . .

*Penulis adalah Mahasiswa Fak. Dirosah Islamiyah Tingkat III Darul Ulum al-Syariyah Univercity.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...