Oleh: Muhammad Fathullah*
Nabi Muhmmad
SAW merupakan icon kebangkitan agama samawi, setelah tenggelam dalam cerita
kebiadaban manusia. Usaha merobohkan akhlaq manusia melalui kultus budaya dan
hegemoni nasab. Menuai kesuksesan di sebuah jazirah yang di kenal dengan nama
Jazirah Arab. Robohnya bangunan peradaban moralitas dan rasionalitas di kawasan
Arab, di tandai dengan deklarasi islam terhadap pulau ini, melalui klaim
jahiliah. Fase jahiliah di kenal sebagai cikal bakal lahirnya seorang putra terbaik
Quraisy. Putra Quraisy inilah, yang kemudian menghapus image Jahiliah dari
tanah Arab.
Episode
Jahiliah merupakan, cerita kelam di tanah Arab, yang tidak sepantasnya untuk di
angkat menjadi kajian sejarah. Namun kebesaran sang putra Quraisy berada di
balik kelam dan kebiadaban bangsa Jahiliah. Megubur anak perempuan dalam
keadaan hidup, merupakan bukti (dalalah) tak terbantahkan bahwa robohnya
peradaban manusia ditandai dengan rusaknya artikulasi dan implementasi makna
nasab dalam rasio manusia. Tawaran pemikiran dari penulis ini, bisa
di lihat dengan beberapa fakta sejarah, diantaranya :
1. Penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup yang di lakukan
oleh bangsa jahiliah, demi mempertahankan eksistensi Qabilah dalam hegemoni
nasab.
2. Adlof Hitler (1889 - 1945)
Sosok
yang terkenal sadis, loyal pada partai, otoriter dan ambisius. Hitler di
lahirkan di Braunau Am Inn, Austria pada 20 april 1889 dari seorang ayah
bernama Alois Hitler, seorang pensiunan pegawai bea cukai. Setelah melalui
perjuangan panjang, akhirnya Hitler menduduki pimpinan puncak partai Nazi di
Jerman.
Tahun
1929 menandai lahirnya rezim hitler, yang sangat mengerikan. Ambisius seorang
Hitler untuk mempertahankan hegemoni Nasab keturunan asli jerman memaksanya
untuk menggunakan konsep eugenetika, konsep ini bisa di artikan sebagai
perbaikan ras manusia dengan memperbanyak individu – individu yanga sehat dan
membuang individu yang cacat atau sakit. Individu yang sehat bisa di hasilkan
melalui perkawinan individu yang sehat pula.
Hitler
menerapkan konsep tersebut dengan tangan besi dan hasilnya sungguh mengerikan.
Orang-orang lanjut usia, cacat fisik dan mental serta penyakitan dari seluruh
Jerman dikumpulkan dalam suatu pusat sterilisasi khusus. Di sini mereka di
habisi karena di anggap parasit. Untuk mendapatkan Ras Arya (Jerman) murni, ia
menganjurkan pemuda – pemudi jerman yang berambut blonde (pirang) dan bermata
biru untuk melakukan seks bebas.
Hingga
1935, sebagai diktator ia mendirikan ladang - ladang khusus reproduksi mausia.
Didalamnya pemudi – pemudi Jerman di kumpulkan dan harus melayani setiap pria
dari rasa Arya yang masuk, demi mendapatkan keturunan yang unggul.
Yang
lebih gila, ukuran tengkorak manusia jerman terutama yang baru lahir juga di
ukur, ini karena menurut teori Darwin, volume otak makhluk hidup akan membesar
saat menaiki tangga evolusi. Akibatnya bayi yang mempunyai volume otak tak
sesuai harus juga di singkirkan.
Hitler,
satu dari ratusan cerita mengerikan, akibat rusaknya pola pikir ummat manusia
dalam memahami makna nasab. Karenanya, muncul di tanah tandus – kering seorang
putra terbaik Quraisy, oleh kakeknya di perkenalkan kepada Dunia denga nama
Muhammad.
Dengan
misi Demokrasi Nasab, Muhammad mulai memperkenalkan ajarannya yang bersumber
dari Sang Maha Pencipta, semuanya berawal dari sejarah gelap Gua Khiro.
Kehidupan Jahiliah memaksa Muhammad untuk melakukan persemedian di dalam gua,
mencari sebuah solusi terhadap sistim kehidupan yang sulit di terima oleh rasio
sehat kala itu. Gua Khiro, menjadi saksi bisu turunnya tawaran membaca masalah,
melakukan analisis dan eksperimen secara berkesinambungan, terhadap body teks
Al – Qur'an dan Al – Hadits An – Nabawiyyah guna melakuka reboisasi terhadap
sisi ubudiyyah dan amaliyyah ummat Islam (amanat surat Al - Alaq). Dari titik
inilah, wacana syari'at islam terus berkibar di antara ratusan bendera ormas,
dengan mengusung tema formalisasi atau non formalisasi syariat. Perjuangan atas
nama formalisasi syari'at, menjadi santapan
media untuk di pasarkan ke tengah rakyat Indonesia. Dari sinilah Islam Idonesia
bagai cerita Tom and Jerry.
Kalau
kita kembali kepada sejarah hijrah, akan kita temukan perjuangan terbesar Nabi
Muhammad SAW membangun prinsip Islam yang tidak mempertahakan Ras, keturunan
dan suku. Karena inti terbesar ajaran Islam menyelamatkan kehidupan ummat
manusia dari kesenjangan ekonomi, ketidakadilan dan keamanan yang meliputi
harta dan jiwa. Sehingga praktik Hijrah, ke negeri Habasyah (etiofia), terjadi
bertepatan dengan meningkatnya volume kekerasan yang di lakukan oleh kaum
Quraisy terhadap para sahabat Rasulullah di kota Makkah. Kondisi ini sangat
membahayakan keselamatan para sahabat Rasulullah, maka solusi Hijrah menjadi
tawaran yang tepat saat itu.
Melihat
praktik Hijrah Habasyah, dua pelajaran besar yang di tawarkan kepada kita untuk
membangun Islam Indonesia kearah yang lebih bersatu, bersama dan eksis sebagai pelopor
cinta damai. Deklarasi dari Rasulullah bahwa islam terlahir bukan membentuk
kotak tetapi dalam rangka membuat ruang, yang semua orang di dalamnya berada
dalam strata sama. Guna menciptakan ketentraman hidup antar semua ras dan
golongan. Berangkat dari titik inilah, kita bisa melihat tiga manuver penting,
yang di tawarkan Rasulullah SAW :
1. Perintah Hijrah Nabi ke negeri Habasyah.
Manuver
pertama ini, jika di lihat dengan kaca mata Radikalisme maka tampak sangat
kontroversial. Karena Negeri Habasyah merupakan kota dengan penganut Agama
Nashrani. Namun, hubungan bilateral antara Rasulullah dengan Negeri Habasyah
tetap terlaksana demi menyelamatkan kehidupan Ummat Islam dari gangguan kaum
Musyriqin Quraisy.
2. Nabi dan Pamannya Abu Tholib
Praktik
kerjasama antara Nabi Muhammad SAW dengan paman beliau Abu Tholib. Sosok Abu
Tholib mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan dakwah al – islamiah.
Dalam pada itu, sosok Abu Tholib terkenal sebagai garda terdepan pembela Nabi
Muhammad SAW, tetap berada dalam kondisi tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad
SAW melalui simbolitas syahadah.
Legalitas
ayat al – qur'an diatas, terhadap kekafiran Abu Tholib, menjadi Argumentasi,
bahwa kerja sama dalam rangka menyelamatkan prinsip perjuangan Islam berupa
keselamatan, keadilan dan keamanan tidak mengenal teritorial suku, ras dan
agama.
3. Icon Ansor dan Muhajirin
Fakta sejarah ketiga
yang ingin penulis tawarkan terkait munculnya Istilah Asor dan Muhajirin di
babak awal Dakwah Al – Islamiah. Dua istilah yang lahir secara bersamaan di
tengah – tengah Dunia Islam kala itu, bukan lahir tanpa sejarah. Dapat
dikatakan, Muhajirin dan Ansor merupakan lambang kebangkitan Islam.
Hijrah Nabi Muhammad SAW
ke madinah bersama para sahabatnya, menandai kelahiran sejarah islam. Dengan
fakta, hitungan Tahun Islam, di kenal dengan Tahun Hijriah di mulai dari
peristiwa besar ini. Cerita Inilah, kemudian mendongkrak nama daerah yang pra
islam dikenal dengan nama Yastrib menjadi kota Nabi (Madinah An - Nabawiyyah).
Di kota Nabi (baca : madinah) inilah, babak baru Islam di mulai, di tandai
dengan lahirnya peristiwa – peristiwa besar yang pada gilirannya menghantarkan
Islam pada masa kejayaan serta menghantarkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya
pada masa sulit. Satu masa di mana kita harus mengakui kembali betapa Demokrasi
Nasab, merupakan kunci dasar membangun dan merekat Ummat Islam dalam satu
kekuatan. Persatuan dan kekuatan Ummat Islam pernah berada di ambang pintu
kehancuran.
Berawal dari ulah orang munafik membuka jendela
wacana keruh dalam Islam ketika Rasulullah berada dalam perjalanan kembali ke
madinah. Letupan emosi yang terpendam puluhan tahun yang lalu di tumpah ruahkan
dalam moment satu menit. Tawaran menakutkan dan melahirkan sikap melanjutkan
perjalanan dari Rasulullah SAW, dengan harapan Ummat Islam mampu melupakan
perkataan orang Munafik tersebut. Mereka berusaha membangun jurang perbedaan
antara kaum Muhajirin dan Ansor, dengan lantang mereka berteriak "sungguh
kaum Quraisy telah menyaingi kita dan mengungguli kita di dalam rumah kita
sendiri". "Kau gemukkan anjingmu untuk menerkammu".
Sebuah pernyataan yang
membuat sahabat Umar Bi Khathab menghunuskan pedangnya. Namun Rasulullah SAW
dengan tegas menyatakan tidak. Beliau hendak mengajarkan kepada kita, bahwa
kekuatan agama ini terletak pada persatuan dan kesatuan. Untuk membangun tali
persatuan tersebut, maka lahirlah kultus sahabat pada masa Rasulullah, dengan
membuang sejauh-jauhnya baju nasab yang sangat riskan melahirkan perpecahan di
dalam tubuh ummat islam. sehingga munculnya golongan Syi'ah dan lain
sebagainya, seringkali menghalalkan segala cara guna mengorbitkan keras kepala
mereka. Patut menjadi pelajaran berharga bagi ummat islam masa kini.
Rasulullah SAW ketika
menginjakkan kakinya di Madinah bertemu dengan kaum Yahudi yang sampai detik
ini, merong – rong keberadaan Ummat Islam. Dalam anggapan mereka risalah
kenabian tepatnya turun pada nasab orang-orang Yahudi. Dari titik simpul
inilah, Islam menjadikan Taqwa sebagai parameter kemuliaan dan level strata
Muslim di hadapan Allah SWT. Baju Yahudi, baju Quraisy dan hegemoni penduduk
asli harus di tanggalkan. Kemudian memasuki lembah Islam dengan pangkat sahabat
serta duduk dalam kursi yang sama, guna memperbaiki moralitas dan membangun
ekonomi ummat melalui icon tijaroh.
Akhirnya, jelaslah bahwa
istilah Ansor dan Muhajirin bertujuan membangun persatuan dan kesatuan dengan
berpegang teguh pada ajaran dan arahan dari Rasulullah SAW. Dengan membangun
rasa persahabatan diantara sahabat – sahabatnya, maka Rasulullah mampu melebarkan
Islam ke seluruh jazirah Arab.
Demokrasi Nasab, yang
penulis tawarkan pada edisi kali ini, merupakan salah satu faktor terhambatnya
arus demokrasi dan reformasi di Indonesia. Dalam pada itu, sangat tepat untuk
di katakan lahirnya korupsi, kolusi dan nepotisme berawal dari kultus istilah
Nasab di tengah masyarakat. Menjadi kewajiban kita sebagai mahasiswa untuk
melakukan kampanye demokrasi nasab demi terciptanya sila kelima "keadilan
social bagi seluruh rakyat Indonesia". Melakukan amandemen terhadap
istilah nasab yang ada di sejumlah daerah Indonesia, merupakan syarat mutlak
untuk mempersempit ruang gerak nepotisme. Jika tidak, maka dampak terbesar yang
akan muncul berupa terpasungnya hak politik, hak ekonomi dan menjamurnya
nepotisme di berbagai bidang kehidupan.
Kita tidak ingin
mendengar surat kabar berbicara tentang cerita Bupati dengan Pertamina
nasabnya. Menteri yang meluncurkan dana dalam partai besar dengan alasan kurang
tepat, tetapi lebih karena pengaruh kesatuan visi dan misi dari segi nasab.
Maka dalam konteks membendung terjadinya ummat yang membanggakan nenek
moyangnya ala Yahudi serta mewujudkan keadilan ekonomi, keadilan berbicara dan
keadilan politik di akhir hayatnya Rasulullah tidak menyatakan keluargaku,
keluargaku, keluargaku tetapi beliau menyatakan Ummatku, Ummatku, Ummatku . . .
. . . . !
Salam Islam Moderat . . . . . . .*Penulis adalah Mahasiswa Fak. Dirosah Islamiyah Tingkat III Darul Ulum al-Syariyah Univercity.


0 komentar:
Posting Komentar