Labels

Minggu, 07 Oktober 2012

Muhammadiyah tapi tidak Muhammadiyah Oriented


Buya Hamka
  Hamka terlahir pada 14 Muharram 1326 H bertepatan dengan 16 februari 1908 di Ranah Minang tepatnya di kampung Molek, Nagari Sungai Batang Maninjau, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, Sumatera Barat (sumbar). Rumahnya berbahan kayu berukuran 17 × 9 meter yang berdiri di areal sekitar 75 meter persegi.
Untuk sampai ke Nagari Kecil di tepian danau Vulkanis yang indah tersebut, dari kota Padang bisa melalui kota Pariaman, berjarak sekitar 140 km ke arah utara. Atau bisa juga melalui Bukit Tinggi, kira – kira 50 km di sebelah barat kota wisata itu. Dari bukit tinggi, sebelum sampai di Maninjau, anda akan melalui jalan bertikungan tajam sebanyak 44 kali.
Hamka kecil yang bernama Abdul Malik tumbuh dilingkungan yang taat menegakkan Sunnah Rasul, selain ayahnya yang seorang ulama, ibunya yang bernama Siti Safiyah Binti Gelanggar juga seorang yang terkenal dan bergelar Bagindo Nan Batuah.
Hamka sempat bersekolah dasar di Maninjau hingga kelas dua selanjutnya beliau mempelajari agama dan mendalami bahasa arab di Sumatera Thawalib yang didirikan oleh ayahnya di Padang Panjang, ayahnya Karim Amrullah atau dikenal sebagai Haji Rasul adalah seorang pelopor gerakan pembaharuan (tajdid) Minangkabau dan juga Indonesia, bersama Abdullah Ahmad dari Padang, Karim menjadi orang Indonesia pertama yang memperooleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kepakarannya dalam ilmu fiqih.
   Pada tahun 1924 Hamka berangkat ke Pulau Jawa untuk mengikuti kursus pergerakan Islam kepada para tokoh pergerakan seperti HOS Cokroaminoto, H Fachruddin, RM. Suryopranto, Ki Bagus Hadikusumo dan juga Hamka pulang kembali ke Padang Panjang pada tahun 1925 dan mengarang buku yang berjudul ‘’Chatibul Ummah’’.
Selanjutnya Hamka mulai bergabung sebagai anggota dalam pergerakan Sarekat Islam hingga akhirny a menunaikan ibadah haji ke tanah suci pada tahun 1927.
Sekembalinya dari tanah suci makkah hamka bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa media local seperti pelita andalas seruan islam dan intang islam .
Ketika gerakan Muhammadiyah berkembang dan populer di Sumatera Barat dengan gerakan Tajdid dan gerakan amar makruf nahi munkar maka Hamka menjadi salah seorang pengikutnya. Ketertarikan Buya Hamka dengan Muhamadiyah dikarenakan pergerakan Islam Modern yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan itu sejalan dengan cita-ctanya yaitu untuk memerangi khurafat bidah, dan kebatinan sesat yang masih membelenggu ummat. Saat itu Hamka aktif menulis di Suara Muhammadiyah untuk kepentingan tabligh di Yogyakarta hingga pada tahun 1928 Buya Hamka dipercaya untuk memimpin kepengurusan Muhammadiyah Padang Panjang.
   Pada tahu 1931 Hamka medapat kepercayaan sebagai konsul Muhamadiyyah di Makassar dan sejak itu sosok Buya Hamka semakin menguat dan diperhitungkan dikalangan Muhamadiyyah. Pada tahun 1946 Hamka terpilih menjadi Ketua Majlis Pimpinan Muhamadiyyah di Sumatera Barat dalam konferensi Muhamadiyyah, menggantikan S. Y. Mangkuto sosok Buya Hamka makin populer sebagai Ulama Kharismatik. Pada periode tahun 1950-an dan pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Muhamadiyyah. Seiring kifrah aktifnya dalam pergerakan Muhammadiyyah Buya Hamka tetaplah seorang pendidik dan pendakwah bagi semua kalangan. Buya Hamka dikenal sebagai seorang berlatar belakang Muhamadiyah yang tidak Muhamadiyyah oriented. Pergaulan Buya Hamka terjalin cukup baik dengan banyak kalangan di luar Muhamadiyah, seiring itu pula sosoknya sebagai ulama mulai mendapat pengakuan dari masyarakat luas.
Selain aktif berdakwah didalam negeri, Hamka juga aktif pada forum – forum ulama di tingkat Internasional. Pada tahun 1950 beliau mengunjungi arab Saudi, Mesir, Syiria, Iraq dan Lebanon untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. pada tahun 1952 sempat berkunjung ke Amerika Serikat selama empat bulan. Pada tahun 1954 hamka mengunjungi Burma sebagai perwakilan dari Indonesia dalam Acara Perayaan 2000 Tahun Buddha.
   26 juli 1975 Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan oleh 53 orang Ulama dan aktivis dari berbagai ormas Islam, seperti antara lain NU, Muhamadiyah, Al-Irsyad Al-Washilyah dan Al-ittihadiyyah. Terpilih sebagai Ketua Umum Pertama Prof. Hamka. Salah satu fungsi penting yang diemban oleh organisasi ini adalah memberi Fatwa dan Nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan Ummat Islam sebagai amar ma’ruf dan Nahi Munkar.
   Sang Buya, memang besar dari sebuah Organisasi bernama Muhamadiyah. Namun beliau tidak Ortodok terhadap simbolis yang ada di tubuh Muhamadiyah. Terbukti, dengan bergabungnya beliau dalam sebuah alairan sufistik yang ada di tanah air. Pergaulan beliau dengan sejumlah komunitas agama lain menunjukkan jiwa besar Sang Buya kita ini. Dari titik inilah, penulis berkesimpulan bahwa beliau seorang simpatisan Muhamadiyah tapi tidak muhamadiyah oriented.
   Buya hamka akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat di bulan Ramadhan, jum’at pagi pukul 10.41 WIB tanggal 22 tahun 1401 hijriyah setelah di rawat selama tujuh hari di RS. Pusat Pertamina akibat kompilasi penyakit gula dan jantung yang di deritanya.
Sang Buya pernah berkata :
”mengapa emgkau tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah atau engkau tatap bukit yang hijau dengan lereng yang indah? Gemercik air mengalir, indah. Atau, engkau bangun pada malam hari engkau tatp langit dengan taburan bintang dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau, engkau bangun dengar suara jangkrik katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan. Padahal jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. Kalau ala mini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah”

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...