KH.Wahab Chasbullah (1888-1971)
Banyak orang yg faham bahwa lingkup ulama’ adalah pesantren, masjid dan temapat-tempat ibadah, satu pemahaman yang perlu dibenahi, pada konteksnya wadah dakwah ulama’ mencakup semua aspek kehidupan,
Sepintas kita telusuri kehidupan rasullah saw sebagai pengulur estafet tongkat dakwah, albouty dalam fiqih sirahnya beliau mengambarkan sosok revolusioner jahily ini sebagai sahsiah(baca:kepribadian) multi dimensi, selain sebagai pengemban dakwah risalah rabbani, beliau juga seorang politisi lihai yg mampu memimpin bangsa arab manuju kemajuan dalam naungan bendera islam,sampai berkembang hampirr di seantaro benua, dan tdk dapt dipungkiri lagi dakwah melalui diplomasi politik kepada para pengusaa saat itu, dapat kita rasakn hasilnya sampai di nusantara kita ,
Wajar bila potret ulama nusantara kita multidimensi, sebagai warasattul anbiya’ (baca pewaris para nabi)yang terkadang mampu mendapat sebgian ke multian sosok rasul saw,iya beliaulah KH wahab chasbullah yang biasa di sapa mbah wahab chasbullah salah satu sosok ulama’ politisi nusantara..
Pendiri NU yang sebenarnya ini. Putra Kiai Chasbullah dari Tambakberas, Jombang. Belajar di berbagai pesantren Jawa Timur (termasuk yang dipimpin Kiai Kholil di Bangkalan dan di pesantren kerabatnya, Hasjim Asj'ari, di Tebuireng). Selama 1910-14 belajar di Mekkah, kepada ulama Indonesia terkemuka seperti Mahfuzh Termas dan Ahmad Khatib Minangkabau. Sekembalinya dari tanah Arab, dia menetap di Surabaya dan aktif di berbagai lingkungan sosial yang luas, mendirikan beberapa organisasi yang dapat dipandang sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama, yang didirikan di rumahnya di Surabaya pada bulan Januari 1926.
Sosok ulama’ yang bisa dibilang modernis ini pernah memakai jas ala kaum westrnis yang kala itu lagi diperdebatkan kebolehannya, tpi beliau dg kepribadiannya yg tinggi enggan menggubris hal itu dg tetap memakainya dan masih tetap eksist dalam medan dakwahnya, dan memimpin pesantren tambakberas yang sekarang terkenal dengan ponpest bahrul ulum,
Beliau semula menjabat sebagai sekretaris (katib) Syuriyah, tetapi segera menarik diri ke belakang sebagai mustasyar. Pada 1942 dia kembali maju ke depan, menggantikan Machfoezh Siddiq sebagai ketua umum. Pada saat pembentukan Masyumi pada 1943, Kiai Wahab menjadi salah seorang wakil NU di kepengurusannya. Dia juga mewakili Masyumi, dan sejak 1952 mewakili NU, di DPR. Ketika Hasjim Asj'ari meninggal peda 1947, Kiai Wahab menggantikannya sebagai Rois Aam, posisi yaag tetap berada di tangannya sampai akhir hayatnya pada 1971.Mbah Wahab adalah pengagum berat Soekarno, dan di bawah pimpinannya NU senantiasa mendukung hampir semua kebijakan Soekarno. Setelah kejatuhan Soekarno, Kiai Wahab secara formal tetap menduduki jabatannya tetapi dalam prakteknya kehilangan seluruh pengaruhnya di NU.
Tapi kita tidak bisa melupakan jasa beliau kepada umat islam Indonesia yang merupakan jamaah haji terbesar kuotanaya diarab saudi, dan bisa dibilang sedunia sewaktu isu pembongkaran makam rasullah saw yang akan dilakukan oleh kerajaan saudi, belaiu pun bergegas mengumpulkan ulama’ nusantara untuk merundingkan masalah yg serius ini, wal hasil beliau ditunjuk sebagai wakil ulama’ Indonesia yang menolak keras pembongkarn trsebut dan akhirnya beliau berhasil dengan diplomasi beliau yang handal,sehingga sampai sekarang kita bisa menziarahi makam rasullah saw itu.
Minggu, 07 Oktober 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar